bulan's posts with tag: aceh
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
http://me-nie.blogspot.com/2007/04/fenomena-aceh-07.html
Daster Batik
Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa.
“Assalamualaikum” sapa Nie.
“Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak.
Nie
menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk
mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu
yang duduk lesehan di depan kantorku.
Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh,
Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari
ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami.
Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.”
Nie
mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang
sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau
disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi
auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi kepala mereka ditutup
manis dengan jilbab. Ada ibu-ibu yang membawa anak, ada yang datang
ditunggui suaminya. Ada berbagai macam ibu-ibu di kantor.
Namun,
ada satu kesamaan dari ibu-ibu itu, hampir semua ibu-ibu itu memakai
perhiasan emas, baik kalung, gelang, atau cincin. Ada beberapa ibu-ibu
yang memakai lebih dari satu jenis perhiasan, kalung atau gelang
bertumpuk-tumpuk layaknya dukun, atau cincin di setiap jarinya, seperti
tukang ramal.
Nie
termenung, bertanya dalam hati, apa benar mereka butuh bantuan daster?
Bukankah harga perhiasan-perhiasan emas itu jauh lebih mahal daripada
selembar daster?
***
Itulah
sepenggal kejadian yang menggugah nurani Nie, dan masih ada serentetan
kejadian yang kadang membuat Nie marah atau sampai menangis.
Sudah
lebih dari setengah tahun Nie tinggal dan bekerja di salah satu kota di
provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Salah satu alasan Nie ingin
mengabdikan diri di kota yang beberapa tahun silam dihancur-leburkan
oleh tsunami adalah ingin memberikan bantuan pada masyarakat Aceh.
Mungkin bukan bantuan berupa uang, karena seperti kata Rasul Petrus dan
Yahya, emas dan perak aku tak punya. Jadi yang bisa Nie berikan adalah
tenaga atau kepintaran.
Namun,
beberapa hari setelah Nie menginjakkan kaki di bumi Aceh ini, ada rasa
penyesalan yang begitu mendalam. Mengapa Nie bisa nyampe ke sini?
***
Kereta Kencana
Minggu-minggu
awal petualanganku di bumi Aceh ini diwarnai dengan kunjungan ke TLC
(temporary living centres) atau biasa dikenal dengan sebutan barak. Ada
yang bilang ini barak pengungsian. But, yeah, you’re right!
Oke,
penampilan luar bisa saja kita sebut tempat ini sebagai barak, namun,
kalau ditilik dari definisi barak, Nie rasa disebut RSS (Rumah Sangat
Sederhana) saja masih belum cocok.
Hari
itu, Nie bersama seorang kolega berjalan menyusuri sebuah lokasi barak
di sebuah kecamatan di Aceh Barat. Nie melihat dari jauh barak-barak
itu. Ah ya, Tuhan, bagaimana mereka bisa tinggal di tempat seperti itu.
Atap rumbia, dinding-dinding triplek, air sungai yang mengalir yang
berfungsi untuk apa saja dan siapa saja, dan siang itu, panas sangat
terik. Hatiku teriris-iris.
Semakin
dekat, Nie menjadi bingung. Di depan barak-barak itu ada sejumlah
kereta (sepeda motor) yang diparkir dengan rapinya. Ada satu-dua kereta
yang plat nomornya masih berwarna putih merah. Nie tercengang, milik
merekakah itu?
Kolega Nie seakan bisa membaca pikiran Nie, “Jangan
salah, Nie, mereka boleh tinggal di barak, namun kereta, mereka wajib
punya. Lihat rumah di pojok itu. Ya, bapak itu punya anak tiga, dan
masing-masing anaknya punya satu kereta, ditambah kereta miliknya. Jadi
keluarga itu punya empat kereta!” Bibirku terkatup. Nie
benar-benar tidak bisa bicara. Mata Nie menyapu keadaan di barak itu.
Ya, ternyata benar. Hampir di depan setiap rumah ada satu atau dua
kereta, bahkan ada yang lebih.
“Darimana mereka mendapat uang untuk beli semua itu?” Aku seperti orang linglung. Kolegaku tersenyum sinis, “ya
bantuan NGO lah! Uang yang mereka dapat, ya mereka buat beli kereta,
atau emas, atau handphone. Atau bantuan dari NGO seperti mesin jahit,
perahu, atau becak mesin, mereka jual, dan ya uangnya buat memenuhi
kebutuhan gengsi mereka.”
Aku terdiam.
Dan
hari ini, Nie sudah kenyang melihat kenyataan hidup di bumi Aceh ini.
For your information, orang-orang Aceh ini tidak miskin. Mungkin ada
secuil orang-orang yang masih butuh bantuan, tapi kenapa bukan
saudara-saudara mereka saja yang membantu? Kenapa masih butuh NGO atau
LSM atau kucuran dana dari pemerintah Jakarta?
Anak-anak
tetangga sebelah rumahku di sini, yang umurnya paling sepuluh, sebelas,
atau duabelas tahun, punya handphone yang jauuh lebih keren daripada
punyaku. Ringtone handphone mereka sudah lagu-lagunya Radja, Peterpan
atau Ungu, sedangkan punya Nie masih polyphonic ringtone yang nggak
jelas lagu apa itu. Mereka pun udah tahu MMS, bluetooth dan segala
tetek bengek handphone, sedang Nie, ya cuma SMS saja lah!
***
Di Pi Di
Malam
tadi, Nie pengen banget makan martabak manis. Bang Peter sempat
merekomendasikan satu pedagang martabak Bangka yang enak banget.
Alhasil, Nie merajuk Kak Rida untuk menemani Nie beli martabak Bangka
di tempat itu.
Jadilah
tadi beli martabak Bangka plus isi minyak (bensin) plus mengunjungi
teman baik kami, Kak Yon, yang lagi sakit (cepet sembuh ya, kak!).
Dalam
perjalanan pulang, Nie melamunkan betapa enaknya martabak Bangka ini.
Hm,... sudah beberapa hari ini Nie diet, ya maklum lah, namanya cewek,
perawan ting-ting, dan masih muda, ya harus jaga badan. Tapi hari ini,
Nie pengen banget makan martabak ini. Manis-manis, ditambah dengan rasa
asinnya keju, dan hari ini Kak Rida minta dikasih jagung. Hm, yummy!
So, forget about diet!
Tiba-tiba,
Nie melihat mobil City yang plat nomornya masih putih merah. Dalam
hati, yeah, right, another gengsi victim! Emang kok, orang Aceh ini
kaya-kaya. Mobil-mobil keren sudah mulai berdatangan. Minggu lalu, Nie
melihat sebuah mobil sedan, warna merah maroon, dengan logo berbentuk
lingkaran, ada warna putih dan birunya, dan bertuliskan BMW. Gila! Gitu
katanya korban tsunami.
Mobil
City itu bergerak mendahului kereta kami. Dan,..Goodness me! Anjrit!
Edan! Dan semua umpatan tiba-tiba keluar dari mulut Nie. Kak Rida agak
kaget mendengar jeritan Nie. “Kak, lihat, di mobil itu ada DVD player. Jadi mereka bisa melihat DVD di dalam mobil!!” Nie berteriak-teriak sambil menunjuk mobil City silver yang Nie maksud. What the heck?!
Kak Rida tertawa sinis. Nie masih terus ngomel, teruus, sampai kami tiba di depan rumah, Nie masih ngoceh terus.
***
Nie
tidak mau didatangi oleh intel presiden atau, at least, bodyguard
Gubernur Irwandi karena tulisan Nie yang ini. Nie tidak bilang kalo
orang Aceh sudah TIDAK BUTUH bantuan dari orang-orang lain, TIDAK BUTUH
bantuan dari NGO-NGO luar negeri. Tidak.
Yang
Nie mau bilang adalah orang-orang Aceh itu tidak semenderita yang kita
pikirkan atau bayangkan. Tinggalnya boleh di barak (or kerennya TLC),
tapi, kereta banyak, handphone berlimpah, dan punya PARABOLA. Nah, apa
mereka masih butuh dibantu? Tidak, kan.
Tau
nggak, ada lho orang-orang yang secara SADAR memilih untuk tinggal di
barak. Kenapa? Karena kalau tinggal di barak, mereka dapat bantuan dari
NGO atau pemerintah, seperti gratis pake listrik, gratis air, dan dulu
dapet gratis jadup (jatah hidup: minyak, beras, etc.). So, mereka
mikir, daripada tinggal di rumah yang layak tapi harus bayar listrik
sendiri, air sendiri, ya tinggal di barak aja. Gila ya!
Tapi
memang ada orang-orang yang bernasib malang, yang memang harus dan
untuk sementara waktu, ditakdirkan tinggal di barak. Mereka yang
rumahnya kebanjiran kalo hujan turun, yang ngga bisa tidur kalau panas
atau hujan karena atap rumbianya cuma tinggal separoh. Mereka yang
harus mandi, cuci pakaian, buang hajat, dan minum menggunakan air
aliran sungai yang sama, karena bantuan supply air dari NGO sudah
selesai.
Masih
ada. So, sekarang tinggal kitanya yang harus jeli, jangan terkecoh
dengan rumah, muka melas, atau kata-kata manis orang-orang ini. Karena
kebanyakan dari mereka, in fact, tidak miskin. Mungkin hati mereka yang
miskin, miskin pengakuan, miskin rasa puas, miskin rasa bangga, miskin
hati nurani, dan miskin kejujuran.
Nia Limanto had been working in a British NGO in Meulaboh, Aceh, yg juga merupakan proyek gabungan dgn UNDP. (quote mba ulma's blog) ini adalah keadaan nyata, dan rasanya kalau bisa, kita tutup mata saja dan ga usah tau ya.. paradox, kalau kita stop bantuan ke Aceh, kok rasanya jahat banget ya.. kalo kita terusin, dipikir lagi, apa perlu? mungkin sudah saatnya ganti strategi... :)
| |